Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

30.8.08
BULAN PENUH KEAGUNGAN TELAH TIBA,,MARI SAMBUT DENGAN PENUH IKHLAS





Lihat Kartu Ucapan Lainnya
(KapanLagi.com)


KOMPOLAN KACONG-JEBBING BANGKALAN MENGUCAPKAN :
"SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 1429 H "
"MOHON MAAF LAHIR BATIN "

KARAPAN SAPI

7.7.08


BANGKALAN-Kerapan sapi dan kesenian pendukungnya masih memukau. Sekitar 500 dokter anak se Indonesia kemarin betah berpanas ria di Alun-Alun Selatan Bangkalan untuk melihat langsung olahraga dan seni tradisional khas Madura itu.

Rombongan dokter itu kunjungan wisata Bangkalan ke dalam rangkaian acara Kongres Ikadan Dokter Anak Indonesia (IDAI) XIV di Surabaya. "Alhamdulillah, kita berhasil mengajak mereka ke Bangkalan. Apalagi yang kita tawarkan yakni kerapan sapi sudah tidak perlu diragukan lagi," ujar dr Hamid Nawawi, anggota IDAI asal Bangkalan.

Hamid yang ditunjuk sebagai panitia pelaksana kunjungan wisata berusaha mengemas kerapan sapi secara lebih baik dan menarik. Selain kerapan enam pasang sapi, panitia Bangkalan menyajikan beberapa bentuk kesenian, baik berupa tarian maupun musik.

Sebelum rombongan yang dibawa 11 bus pariwisata itu datang, musik por-campor mulai mengalun sejak pagi hari. Ada kejungan (kidungan) Madura. Saat rombongan datang, mereka disambut saronen.

Setelah itu enam pasang sapi kerap dikirab keliling lapangan. Namun, prosesi kirab sempat terganggu ketika puluhan wisatawan yang berada di atas tribun berebut turun untuk berfoto di dekat sapi kerap yang tampak gagah.

"Biar saja. Yang penting pelayanan kita pada tamu-tamu kita maksimal. Mereka harus pulang dengan perasaan gembira sehingga bercerita pada rekan-rekannya," ujar dr Hamid

Usai kirab, dilanjutkan tarian pecut yang dibawakan secara kolosal oleh sekitar 75 penari dari sanggar Tarara Bangkalan. Mereka menceritakan segala proses kerapan sapi dari perawatan, persiapan kerap, pelaksanaan hingga pesta kemenangan dalam bentuk olah tari.

Sebelum acara inti kerap dilaksanakan, Bupati Bangkalan Fuad Amin menyampaikan sambutan selamat datang yang dibacakan oleh Sekkab H Sudarmawan. Dikatakan, pemkab merespons positif kepercayaan panitia Kongres IDAI memilih Bangkalan menjadi tujuan wisatanya.

"Selamat datang di Bangkalan. Inilah kebudayaan kami rakyat Madura yang tak ada duanya," ujarnya.

Meski kerapan sapi baru dilaksanakan setelah azan duhur, namun para dokter anak itu tetap tidak mau beranjak dari lapangan. Mereka bahkan berebut berada di garis start dan finish untuk melihat langsung sapi yang dikerap.

"Ternyata kerapan sapi memang luar biasa Mas. Anak-anak maksa untuk bisa dekat dengan sapinya. Padahal, saya takut nih," ujar salah seorang dokter asal Jakarta yang membawa kedua putranya dalam acara wisata kemarin.

Setelah disuguhi kerapan sapi, rombongan IDAI diajak ke Pendapa R Pratanu untuk menikmati makan siang berupa segala masakan khas Madura. Mereka mencicipi, topa' ladhah, soto Madura, sate, tajin Sobih, dan beberapa masakan dan minuman lainnya khas Bangkalan. Mereka juga disediakan segala kerajinan dan produk unggulan untuk bisa dijadikan oleh-oleh pulang. (ale/mat)

PENYEMATAN

6.6.08

penyemetan juara wakil I kajeb 2007 oleh ketua DPRD kab. Bangkalan

penyemetan juara kajeb 2007 oleh ketua BUPATI kab. Bangkalan

kacong indra dan jebbing retno foto bareng bupati bangkalan beserta ibu masnuri fuad

Parade all finalist kacong jebbing bangkalan 2007

Finalist jebbing Yunior 2007

MEMORY GRAND FINAL KAJEB 2007


kacong husin vs jebbing dwi


Jebbing Yoza vs Kacong Syamsul


kacong agung,kacong ilham,kacong yudha,kacong saMM


jebbing yeni,jebbing dheta,jebbing Retno,jebbing nur


Bupati Bangkalan with finalis kajeb yunior 2007

SIAPA BILANG MADURA GERSANG ??

29.4.08

Pada tahun 2005 kemarin, Ben Muhalif, seorang peneliti pada majalah Nationwide yang berkantor di Jakarta, menyelusuri Pulau Madura untuk mengetahui lebih dekat eksotisme pulau ini. Dia sangat terkagum-kagum pada potensi obyek wisata di Madura sekaligus ke eksotisannya, Hasil dari penelitiannya itu dimuat dalam salah satu majalah vip di Jakarta itu.

Dalam tulisannya yang bergaya lugas dan polos, saya baca, di dalamnya peneliti itu memuji-muji Madura. Madura adalah mutiara yang terpendam, katanya. Madura kaya akan obyek wisata berupa pemandangan alam yang bagus dan mengagumkan, di samping kebudayaan yang unik.

Di antara banyak kebudayaan Madura yang menonjol dan layak jual di ranah international adalah Kerapan Sapi, Sapeh Sonok, Nyaketen, dan lain-lain. Sedangkan panorama alam madura yang indah dapat kita temui di Pantai Lombang, Badur, Slopeng dan lain sebagainya. Ditambah lagi obyek wisata yang berupa goa bersejarah, keraton, asta atau makam para penyebar agama Islam dan wali, keajaiban alam seperti Aeng Panas, Api Tak Kunjung Padam, dan masih banyak yang lain.

Bahkan, Liek Mansur Noer mengatakan bahwa Madura adalah serambi Madinah. Term Madinah ini diasosiasikan dengan suatu komonitas kota yang memiliki peradaban tinggi. Seperti Madinatun Nabi, sebuah kota yang memiliki peradaban agung yang didasarkan pada sendi-sendi agama. Demikianlah Madura. Sehingga tidak heran ketika Madura menjadi Pulau Seribu Pesantren. Oleh karenanya masyarakatnya sangat religius.

Apa yang diungkap Ben benar adanya. Namun, apa yang dilihat Ben itu hanyalah bentuk luar dari Madura. Sedangkan bagian dalamnya, Madura sesungguhnya bergelimang nestapa yang sangat dalam. Dia tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi dalam relung kebudayaan Madura yang kata orang sangat eksotis itu. Budaya yang membawa nestapa itu merupakan realitas hakiki yang selalu berkelindan di balik eksotisme budaya Madura yang indah itu.

Sebagaimana teori dramaturgi Goffman yang pernah dikutip Putra (Kompas, 31/12/2005), terdapat dua hal dalam realitas panggung, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian yang hakiki adalah bagian belakang. Bagian depan hanyalah tempat pertunjukan untuk membahagiakan penonton belaka. Begitu juga halnya budaya setiap masyarakat, tak terkecuali budaya masyarakat Madura.

Bertolak pada teori Goffman ini, realitas budaya Madura dan keadaan alamnya yang sangat potensial sebagai obyek wisata merupakan realitas panggung bagian depan. Ini bisa terlihat dan dirasakan oleh seorang peneliti yang menelisik pulau garam ini dalam waktu tiga-empat hari dan hal ini juga dapat dilihat dari balik kaca penginapan di mana sang peneliti menghabiskan waktu untuk beristirahat.

Tapi akan beda halnya jika kita ingin mengetahui panggung budaya bagian belakang yang hakiki itu. Untuk mengetahui ini tak cukup hanya dengan waktu satu-lima hari. Jika Benmau berlama-lama di Madura, maka ia akan menemukan panggung bagian yang nyata itu.

Sedikitnya ada dua (yang dapat diungkap dalam tulisan ini) nestapa di Madura. Keduanya dapat diketahui melalui narasi non fiktif sebagai berikut : pertama, kisah Fitria. Dia adalah seorang gadis cerdas yang dilahirkan di sebuah kampung pedalaman Madura. Tingkat pendidikannya sampai SLTA. Pada usia 18 tahun sebenarnya dia masih ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (PT), namun ia tidak dapat menolak desakan orang tuanya untuk menerima lamaran seorang pemuda yang dicintainya. Kalau dia menolak, menurut orang tuanya, berarti ia telah tidak berbakti lagi kepada mereka. Lagi pula, seorang gadis yang telah mencapai usia 17 ahun ke atas masih belum memiliki tunangan dan atau menikah maka para tetangga di sekitarnya akan mengoloknya sebagai perawan tua yang tak laku-laku.

Dengan persepsi umum sebuah komunitas masyarakat tersebut, sebuah keluarga akan malu jika punya anak gadis yang telah “cukup umur” masih belum menikah atau paling tidak bertunangan.

Kedua, cerita tentang Musappat. Dia adalah orang biasa, bertani, memelihara atau beternak sapi atau kambing sebagaimana orang kebanyakan di sekitarnya. Dia baik hati. Suka membantu, menolong, bergaul, dan rasa persaudarannya sangat kuat. Namun apa yang terjadi ketika ada sesuatu yang menyinggung perasaannya ? Seperi juga orang-orang kebanyakan di sekitarnya, dia akan menantang carok pada siapa saja yang telah menyakiti hatinya. Bahkan setelah terjadi carok, antara dua orang yang bergumul tidak akan segan-segan saling membunuh satu sama lain. Peristiwa seperti itu sudah biasa. Artinya, tindakan kekerasan yang biasanya menggunakan celurit ini bukanlah hal yang tabu.

Di pulau Madura, carok mendapatkan legitimasi secara kultural. Di mata mayoritas orang Madura, carok bukanlah hal yang patut dipolisikan. Carok adalah hal yang sah-sah dan wajar-wajar saja terjadi ketika ada pertikaian. Bahkan pelaku carok yang memenangkan pertarungan bukan dicap sebagai pembunuh, melainkan sebagai ksatria hebat yang dengan itu strata sosialnya dapat semakin tinggi. Oleh karena itu, tidak heran katika seorang jago dalam carok akan sangat disegani.
Pemicu carok ini paling banyak adalah sakit hati karena diganggu istri dan attau anak putrinya oleh orang laki-laki, utang piutang, masalah warisan, salah paham, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang ditunjukkan data dari Kepolisian Resort Bangkalan Tahun 1994, latar belakang terjadinya carok yang terjadi di Madura (khususnya di Bangkalan) ini biasanya dilatar belakangi oleh paling banyak pertama (50,9%) karena gangguan terhadap istri; karena salah paham (24%); tanah harta warisan (7,5%); utang piutang (9,4%); dan lain-lain (7,5%). Jumlah kasus pada tahun tersebut sebanyak 207 kali.

Ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah yang ada dipulau ini sangat diperlukan peranannya dalam persoalan ini. Para steakholder dari organisasi tersebut harus betul peka dalam menghadapi isu-isu seperti itu. Hal itu perlu dilakukan juga dalam rangka mengawal Madura pasca pembangunan jemabatan Suramadu